Assalamualikum Warahmatullahi Wabarakatuh kehadirat yang maha kuasa atas limpahan rahmat, taufik dan hidayahnya sehingga saya dapat menyelesaikan artikel ini dalam bentuk maupun isinya yang sederhana. Semoga artikel ini dapat di pergunakan sebagai salah satu acuan, petunjuk maupun pedoman bagi pembaca sekalian.
Menurut buku "Sejarah Indonesia Periode Islam" oleh Ricu Siqid dan kawan-kawan, sejarah mencatat bahwa sejak awal Masehi, pedagang - pedagang dari India dan China sudah memiliki hubungan dagang dengan penduduk Indonesia. Meski terdapat beberapa teori mengenai kedatangan agama Islam di Indonesia, banyak ahli percaya bahwa masuknya Islam ke Indonesia pada abad ke-7 berdasarkan Berita China zaman Dinasti Tang. Berita tersebut mencatat bahwa pada abad ke-7, terdapat permukiman pedagang muslim dari Arab di Desa Baros, daerah pantai barat Sumatra Utara. Sementara sejarah masuknya Islam pada abad ke-13 Masehi, lebih menunjuk pada perkembangan Islam bersamaan dengan tumbuhnya kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia.
A. Teori Kedatangan Islam di Indonesia
Di lihat dari proses masuk dan berkembangnya agama Islam di Indonesia, ada tiga teori yang berkembang. Teori Gujarat, teori Makkah, dan teori Persia (Ahmad Mansur, 1996). Ketiga teori tersebut, saling mengemukakan perspektif kapan masuknya, asal negara, penyebar atau pembawa Islam ke Nusantara.
Pertama, Teori Mekah mengatakan bahwa proses masuknya Islam ke Indonesia adalah langsung dari Mekah atau Arab. Proses ini berlangsung pada abad pertama Hijriah atau abad ke-7 M. Tokoh yang memperkenalkan teori ini adalah Haji Abdul Karim Amrullah atau HAMKA, salah seorang ulama sekaligus sastrawan Indonesia. Hamka mengemukakan pendapatnya ini pada tahun 1958, saat orasi yang disampaikan pada dies natalis Perguruan Tinggi Islam Negeri (PTIN) di Yogyakarta. Ia menolak seluruh anggapan para sarjana Barat yang mengemukakan bahwa Islam datang ke Indonesia tidak langsung dari Arab. Bahan argumentasi yang dijadikan bahan rujukan HAMKA adalah sumber lokal Indonesia dan Sumber Arab.
Menurutnya, motivasi awal kedatangan orang Arab tidak dilandasi oleh nilai-nilai ekonomi, melainkan didorong oleh motivasi spirit penyebaran agama Islam. Dalam pandangan Hamka, jalur perdagangan antara Indonesia dengan Arab telah berlangsung jauh sebelum tarikh masehi.
Dalam hal ini, teori HAMKA merupakan sanggahan terhadap Teori Gujarat yang banyak kelemahan. Ia malah curiga terhadap prasangka-prasangka penulis orientalis Barat yang cenderung memojokan Islam di Indonesia. penulis Barat, kata HAMKA, melakukan upaya yang sangat sistematik untuk menghilangkan keyakinan negeri-negeri Melayu tentang hubungan rohani yang mesra antara mereka dengan tanah Arab sebagai sumber utama Islam di Indonesia dalam menimba ilmu agama. Dalam pandangan HAMKA, orang-orang Islam di Indonesia mendapatkan Islam dari orang-orang pertama (orang Arab), bukan dari hanya sekadar perdagangan. Pandangan HAMKA ini hampir sama dengan Teori Sufi yang diungkapkan oleh A.H. Johns yang mengatakan bahwa musafirlah (kaum pengembara) yang telah melakukan islamisasi awal di Indonesia. Kaum Sufi biasanya mengembara dari satu tempat ke tempat lainnya untuk mendirikan kumpulan atau perguruan tarekat.
Kedua, Teori Gujarat mengatakan bahwa proses kedatangan Islam ke Indonesia berasal dari Gujarat pada abad ke-7 H atau abad ke-13 M. Gujarat ini terletak di India bagian barat, berdekatan dengan laut Arab. Tokoh yang menyosialisasikan teori ini kebanyakan adalah sarjana dari Belanda. Sarjana pertama yang mengemukakan teori ini adalah J. Pijnapel dari Universitas Leiden pada abad ke 19. Menurutnya, orang-orang Arab bermahzab Syafei telah bermukim di Gujarat dan Malabar sejak awal Hijriyyah (abad ke7 Masehi), namum yang menyebarkan Islam ke Indonesia menurut Pijnapel bukanlah dari orang arab langsung, melainkan pedagang Gujarat yang telah memeluk Islam dan berdagang ke duni timur, termasuk Indonesia. Dalam perkembangan selanjutnya, teori Pijnapel ini diamini dan disebarkan oleh seorang orientalis terkemuka Belanda, Snouck Hurgronje. Menurutnya, Islam telah lebih dulu berkembang di kota-kota pelabuhan Anak Benua India. Orang-orang Gujarat telah lebih awal membuka hubungan dagang dengan Indonesia dibanding dengan pedagang Arab. Dalam pandangan Hurgronje, kedatangan orang Arab terjadi pada masa berikutnya. Orang-orang Arab yang datang ini kebanyakan adalah keturunan Nabi Muhammad yang menggunakan gelar "sayid" atau "syarif" di depan namanya.
Teori Gujarat kemudian juga dikembangkan oleh J.P. Moquetta (1912) yang memberikan argumentasi dengan batu nisan Sultan Malik Al-Saleh yang wafat pada tanggal 17 Dzulhijjah 813 H/1297 M di Pasai, Aceh. Menurutnya, batu nisan di Pasai dan makam Maulanan Malik Ibrahim yang wafat tahun 1419 di Gresik, Jawa Timur, memiliki bentuk yang sama dengan nisan yang tedapat di Kambay, Gujarat.Moquetta akhirnya berksesimpulan bahwa batu nisantersebut diimpor dari Gujarat, atau setidaknya dibuat oleh orang Gujarat atau orang Indonesia yang telah belajar kalifgrafi khas Gujarat. Alasan lainnya adalah kesamaan mahzab Syafei yang di anut masyarakat muslim di Gujarat dan Indonesia.
Ketiga, Teori Persia mengatakan bahwa proses kedatangan Islam ke Indonesia berasal dari daerah Persia atau Parsi (kini Iran). Pencetus dari teori ini adalah Hoesein Djajadiningrat, sejarawan asal Banten. Dalam memberikan argumentasinya, Hoesein lebih menitikberatkan analisisnya pada kesamaan budaya dan tradisi yang berkembang antara masyrakat Parsi dan Indonesia.
Tradisi tersebut antara lain : tradisi merayakan 10 Muharram atau Asyuro sebagai hari suci kaum Syiah atas kematian Husein bin Ali, cucu Nabi Muhammad, seperti yang berkembang dalam tradisi tabut di Pariaman di Sumatera Barat. Istilah "tabut" (keranda) diambil dari bahasa Arabn yang di translasi melalui bahasa Parsi. Tradisi lain adalah ajaran mistik yang banyak kesamaan, misalnya antara ajaran Syekh Siti Jenar dari Jawa Tengah dengan ajaran sufi Al-Hallaj dari Persia. Bukan kebetulan, keduanya mati dihukum oleh penguasa setempat karena ajaran-ajarannya dinilai bertentangan dengan ketauhidan Islam (murtad) dan membahayakan stabilitas politik dan sosial. Alasan lain yang dikemukakan Hoesein yang sejalan dengan teori Moquetta, yaitu ada kesamaan seni kaligrafi pahat pada batu-batu nisan yang dipakai di kuburan Islam awal di Indonesia. Kesamaan lain adalah bahwa umat Islam Indonesia menganut mahzab Syafei, sama seperti kebanyakan muslim di Iran.
B. Dakwah Islam masa Wali Songo
Siapa yang tidak kenal Wali Songo? Mereka dikenal seseorang yang gigih menyebarkan ajaran agama Islam pada abad ke 14 di tanah Jawa. Para Wali Songo tersebar di Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat. Mereka cepat dikenal masyarakat luas karena kerap berdakwah tanpa memaksa harus masuk Islam.
Masyarakat muslim di nusantara pasti sudah tak asing lagi dengan Wali Songo. Wali memiliki arti wakil, sementara songo memiliki arti sembilan. Dengan demikian, Wali songo adalah sembilan wakil atau wali allah SWT. Perjalanan Dakwah Wali Songo telah dicatat dalam sejarah penyebaran agama Islam di Indonesia. Mereka telah meninggalkan banyak jejak dalam berdakwah.Wali songo membawa perubahan besar terhadap masyarakat Jawa yang dulunya banyak beragama Hindu-Budha.
1. Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah)
Sunan Gunung jati (Syarif Hidayatullah) berperan penting dalam penyebaran islam di Jawa Barat, Cirebon. Sunan Gunung jati adalah pendiri dinasti kesultanan Banten yang dimulai dengan putranya, Sultan Maulana Hasanudin. Pada tahun 1527, Sunan Gunung Jati menyerang Sunda Kelapa di bawah pimpinan panglima perang Kesultanan Demak, Fatahillah. Sunan Gunung jati merupakan sosok yang cerdas dan tekun dalam menuntut ilmu. Karena kesungguhannya, ia diizinkan ibunya untuk menuntut ilmu ke Makkah. Di sana, dia berguru pada Syekh Tajudin Al-Qurthubi. Tak lama kemudian, ia lanjut ke Mesir dan berguru pada Syekh Muhammad Athaillah Al-Syadzili, ulama bermadzhab Syafi'i. Di sana, Sunan Gunung Jati belajar tasawuf tarekat syadziliyah.
Setelah diarahkan oleh Syekh Athaillah, Syarif Hidayatullah memutuskan pulang ke Nusantara untuk berguru pada Syekh Maulana Ishak di Pasai, Aceh. Kemudian, ia melanjutkan perjalanan ke Karawang, Kudus, sampai di Pesantren Ampeldenta, Surabaya. Di sana, ia berguru pada Sunan Ampel. Sunan Gunung Jati lantas diminta untuk berdakwah dan menyebarkan agama Islam di daerah Cirebon dan menjadi guru agama. Ia menggantikan Syekh Datuk Kahfi di Gunung Sembung. Setelah masyarakat Cirebon banyak yang memeluk agama Islam, Syarif Hidayatullah lantas lanjut berdakwah ke daerah Banten.
Selama berdakwah di Cirebon, Syarif Hidayatullah menikahi Nyi Ratu Pakungwati, putri dari Pangeran Cakrabuana atau Haji Abdullah Iman, penguasa Cirebon saat itu. Di sana, ia mendirikan sebuah pondok pesantren, lalu mengajarkan agama Islam kepada penduduk sekitar. Para santri di sana memanggilnya dengan julukan Maulana Jati atau Syekh Jati. Selain itu, ia juga mendapatkan gelar Sunan Gunung Jati karena berdakwah di daerah pegunungan.
2. Sunan Ampel (Raden Rahmat)
Sunan Ampel memiliki nama asli Raden Rahmat. Ia memulai dakwahnya dari sebuah pondok pesantren yang didirikan di Ampel Denta, Surabaya. Ia dikenal sebagai pembina pondok pesantren pertama di Jawa Timur. Sunan Ampel memiliki murid yang mengikuti jejak dakwahnya, yaitu Sunan Giri, Sunan Bonang, dan Sunan Drajat. Suatu ketika, Sunana Ampel diberi tanah oleh Prabu Brawijaya di daerah Ampel Denta. Ia lantas mendirikan sebuah masjid. Di sana, masjid tersebut dijaga oleh Mbah Sholeh. Ia sangat terkenal sebagai orang yang selalu menjaga kebersihan. Hal itu juga diakui oleh Sunan Ampel. Hingga suatu hari, Mbah Sholeh meninggal dunia. Ia lantas dimakamkan di samping masjid.
Sepeninggal Mbah Sholeh. Sunan Ampel tak kunjung menemukan pengganti penjaga masjid yang serajin Mbah Sholeh. Akibatnya masjid tak terurus dan kotor. Sunan Ampel kemudian bergumam, "Seandainya Mbah Sholeh masih hidup, pasti masjidnya jadi bersih". Seketika itu pula sosok seupa Mbah Sholeh muncuk. Ia lantas menjalankan rutinitas yang biasa dilakukan Mbah Sholeh, namum tak lama kemudian meninggal lagi dan dimakamkan persis di samping makan Mbah Sholeh. Peristiwa itu retulang hingga sembilan kali. Konon, Mbah Sholeh baru benar-benar meninggal setelah Sunan Ampel meninggal dunia.
Metode dakwah dari Kanjeng Sunan Ampel terkenal dengan keunikannya dimana ia melakukanupaya akulturasi dan asimilasi dari aspek budaya pra-Islam dengan Islam, baik melalui jalan sosial, budaya, politik, ekonomi, mistik, kultus, ritual, tradi keagamaan, maupun konsep sufisme yang khas untuk mereflkesikan keragaman tradisi muslim secara kesuluruhan yang dibahas pada buku Mazhab Dakwah Wasathiyah Sunan Ampel.
3. Sunan Gresik (Maulana Malik Ibrahim)
Sunan Gresik (Maulana Malik Ibrahim) dikenal dengan nama Maulana Maghribi (Syekh Maghribi). Ia diduga berasal dari wilayah Magribi, Afrika Utara. Namun demikian, hingga saat ini belum diketahui secara pasti sejarah tempat dan tahun kelahirannya. Sunan Gresik diperkirakan lahir pada pertengahan abad ke 14. Ia merupakan guru para wali lainnya. Sunan Gresik berasal dari keluarga muslim yang taat. Kendati ia belajar agama Islam sejak kecil, namun tidak diketahui siapa saja gurunya hingga ia menjadi ulama.
Pada abad ke-14, Sunan Gresik ditugaskan untuk menyebarkan
agama Islam ke Asia Tenggara. Ia berlabuh di Desa Leran, Gresik. Saat itu,
Gresik merupakan bandar kerajaan Majapahit. Tentu saja masyarakat saat itu
banyak yang memeluk agama Hindu dan Buddha. Di Gresik, ia menjadi pedagang dan
tabib. Di sela-sela itu, ia berdakwah. Sunan Gresik berdakwah melalui
perdagangan dan pendidikan pesantren. Pada awalnya, ia berdagang di tempat
terbuka dekat pelabuhan agar masyarakat tidak kaget dengan ajaran baru yang
dibawanya. Sunan Gresik berhasil mengundang simpati masyarakat, termasuk Raja
Brawijaya. Akhirnya, ia diangkat sebagai Syahbandar atau kepala pelabuhan.
Tidak hanya jadi pedagang andal, Sunan Gresik juga berjiwa
sosial tinggi. Ia bahkan mengajarkan cara bercocok tanam kepada masyarakat
kelas bawah yang selama ini dipandang sebelah mata oleh ajaran Hindu. Karena
strategi dakwah inilah, ajaran agama Islam secara berangsur-angsur diterima
oleh masyarakat setempat.
4. Sunan Bonang (Raden Makhdum)
Sunan Bonang adalah salah satu Wali Songo yang menyebarkan
ajaran agama Islam di Tanah Jawa. Ia memiliki nama asli Syekh Maulana Makdum
Ibrahim, putra dari Sunan Ampel dan Dewi Condrowati (Nyai Ageng Manila). Namun,
ada versi lain yang mengatakan Dewi Condrowati adalah putri Prabu Kertabumi.
Dengan demikian, Sunan Bonang adalah Pangeran Majapahit. Sebab, ibunya adalah
putri Raja Majapahit dan ayahnya menantu Raja Majapahit. Sunan Bonang
menyebarkan ajaran agama Islam dengan cara menyesuaikan diri terhadap corak
kebudayaan masyarakat Jawa. Seperti diketahui, orang Jawa sangat menggemari
wayang dan musik gamelan. Karena itulah, Sunan Bonang menciptakan
gending-gending yang memiliki nilai-nilai keislaman.
Sunan Bonang berdakwah dengan menggunakan musik yang
dialunkan lewat gamelan buatannya. Hal ini bukan tanpa alasan. Beliau memilih
untuk berdakwah dengan musik supaya mudah diterima oleh masyarakat Jawa pada
masa itu tanpa adanya paksaan. Perjalanan berdakwah beliau dimulai dari kota
Kediri, Jawa Timur. Saat itu beliau mendirikan sebuah langgar atau musala yang
berlokasi di pinggir Sungai Brantas, tepatnya di Desa Singkal.
Setelah berdakwah di sana, Sunan Bonang lalu melanjutkan dakwahnya ke Demak, Jawa Tengah. Saat di Demak, beliau tinggal di Desa Bonang. Konon, beliau juga mendapat julukan sebagai Sunan Bonang karena lama bermukim di desa ini. Untuk berdakwah di Pulau Jawa tentunya tidaklah mudah karena pada masa itu masyarakat Jawa punya adat istiadat yang sangat kental dan kebanyakan masih memegang teguh unsur kejawen.
Tapi Sunan Bonang tidak mudah menyerah. Beliau melihat kalau masyarakat Jawa sangat tertarik dengan dunia seni sehingga dari sinilah muncul ide untuk membuat sebuah alat musik yang kemudian dinamakan sebagai alat musik bonang. Saat akan memulai dakwahnya, Sunan Bonang akan memainkan gamelan bonang tersebut sehingga keluar suara merdu dan bisa menarik perhatian banyak orang. Sambil memainkan alat musik, beliau akan menyanyikan tembang atau lagu yang di dalamnya berisi ajaran-ajaran Islam. Dari sinilah masyarakat setempat lambat laun mulai tertarik untuk mempelajari Islam.
5. Sunan Giri (Raden Paku)
Sunan Giri memiliki nama asli Raden Paku. Ia merupakan putra
Maulana Ishak. Sunan Giri yang lahir di Blambangan tahun 1442 Masehi dan
dimakamkan di Desa Giri, Kebomas, Gresik. Suatu ketika, ia ditugaskan oleh
Sunan Ampel untuk menyebarkan ajaran agama Islam di Blambangan. Semasa
hidupnya. Sunan Giri pernah belajar di pesantren Ampel Denta, melakukan perjalanan
haji bersama Sunan Bonang. Sepulangnya dari haji, ia singgah di Pasai untuk
memperdalam ilmu agama. Saat itu, Sunan Giri mendirikan sebuah pesantren di
daerah Giri. Kemudian, ia mengirimkan banyak juru dakwah ke berbagai daerah di
nusantara. Sunan Giri juga dikenal
sebagai sang ahli tata negara.
Sunan giri dikenal sebagai pendakwah yang berdakwah melalui permainan anak-anak. Beliau menciptakan permainan seperti jelungan, jamuran, gendir gerit, dan cublak-cublak suweng. Permainan anak-anak ini menjadi sangat populer sebagai permainan tradisional dari Jawa dan keberadaannya hingga sekarang masih bisa dimainkan. Jika diperhatikan lebih dalam, semua permainan anak-anak yang dibuat oleh Sunan Giri selalu ada nyanyiannya. Dengan menambahkan nyanyian pada permainan anak-anak, maka permainan tersebut akan terasa lebih menyenangkan.Salah satu permainan anak yang ada nyanyiannya adalah cublek-cublek suweng.Di dalamnya, terdapat lirik yang mengandung makna janganlah menuruti hawa nafsu karena semuanya nanti akan kembali lagi ke hati nurani yang bersih. Dengan hati nurani yang bersih, maka kita bisa menemukan kebahagiaan dan tidak tersesat hingga lupa akan akhirat.
Selain melalui permainan anak-anak, Sunan Giri juga
berdakwah dengan seni. Seni yang digunakan dalam berdakwah adalah wayang hingga
tembang-tembang Jawa. Jadi ketika memainkan wayang, Sunan Giri akan menyisipkan
ajaran-ajaran Islam di dalamnya sehingga masyarakat setempat bisa belajar agama
Islam dengan cara yang lebih menyenangkan. Sunan Giri menciptakan gending atau
lagu instrumental Jawa seperti Asmarandana dan Pucung. Pendekatan lewat jalur
seni ini sangat berguna sehingga di masa itu banyak masyarakat Jawa yang mulai
memeluk agama Islam.
6. Sunan Drajat (Raden Qasim)
Sunan Drajat (Raden Qasim) merupakan putra Sunan Ampel.
Sunan Drajat merupakan seorang wali yang dikenal berjiwa sosial tinggi. Ia
banyak menolong yatim piatu, fakir miskin, dan orang sakit. Ia memiliki
perhatian yang sangat besar terhadap masalah sosial. Sunan Drajat menyebarkan
agama Islam di Lamongan, Jawa Timur. Sunan Drajat merupakan Wali Songo yang
memiliki banyak nama, yaitu Sunan Mahmud, Sunan Mayang Madu, Sunan Muryapada,
Raden Imam, dan Maulana Hasyim. Pada 1484, ia
diberi gelar oleh Raden Patah dari Demak, yaitu Sunan Mayang Madu.
Ketika Sunan Drajat datang ke Desa Banjaranyar, Paciran,
Lamongan, ia mendatangi pesisir Lamongan yang gersang bernama Desa Jelak.
Masyarakat sekitar masih menganut agama Hindu dan Buddha. Di desa tersebut,
Sunan Drajat membangun mushola untuk beribadah dan mengajarkan agama Islam. Selain
itu, Sunan Drajat juga membangun daerah baru di dalam hutan belantara. Ia
mengubahnya menjadi daerah yang berkembang, subur, serta makmur. Daerah
tersebut bernama Drajat, oleh sebab itu ia diberi gelar Sunan Drajat.
7. Sunan Muria (Raden Umar Said)
Sunan Muria merupakan seorang Wali Songo yang sangat berjasa
bagi penyebaran agama Islam di nusantara, terutama di daerah pedesaan. Ia gemar
bergaul dengan masyarakat kalangan bawah. Hal itu membuat masyarakat mudah
menerima ajaran yang disampaikannya. Membaurnya Sunan Muria dengan masyarakat
dikenal dengan istilah “topo ngeli”. Artinya, menghanyutkan diri dalam
masyarakat. Sunan Muria berdakwah dengan metode tersebut hingga ke Gunung
Muria.
Sunan Muria sendiri berasal dari nama Gunung Muria dimana tempat beliau berdakwah, mendirikan masjid dan pesantren, serta tempat beliau dimakamkan kelak. Selain itu, ia juga berdakwah lewat kesenian seperti gamelan, wayang, dan tembang jawa. Ajaran Sunan Muria meliputi penghayatan kebenaran dan ketaatan pada Allah SWT, wirid, kesederhanaan, kedermawanan, dan ajaran dakwah secara bijak dalam menghadapi budaya masyarakat yang dianut. Karena dakwahnya, ada beberapa hasil kesenian peninggalan Sunan Muria yang masih bisa dipelajari hingga saat ini. Di antaranya tembang Kinanthi dan Sinom. Tembang Kinanthi terkenal karena menceritakan tentang bimbingan dan kasih sayang orang tua kepada anaknya.
Sunan Muria dikenal dengan cara berdakwahnya yang bisa
dikatakan berbeda dari metode berdakwah lainnya. Sunan Muria memilih metode
berdakwah dengan memberikan kursus gratis kepada masyarakat setempat. Diketahui
kalau masyarakat yang tinggal di daerah pedalaman memiliki pengetahuan dan keterampilan
yang kurang. Beliau kemudian menggelar kursus keterampilan yang khusus
diselenggarakan bagi para petani, pedagang, pelaut, dan nelayan.
Di kursus tersebut, nantinya masyarakat akan diberikan
pengetahuan bagaimana cara berdagang, bercocok tanam, menangkap ikan, membuat
perahu, dan lain sebagainya. Setelah mengajarkan kursus gratis keterampilan
tersebut, beliau akan mengajarkan ajaran Islam kepada mereka. Dengan membangun
kepercayaan dari masyarakat, Sunan Muria bisa lebih mudah untuk menyebarkan
agama Islam di sana. Tidak hanya masyarakat yang tinggal di Gunung Muria dan
sekitarnya, masyarakat dari luar kota hingga luar Pulau Jawa pun datang menemui
Sunan Muria untuk mendapatkan kursus gratis tersebut.
Tak berbeda jauh dengan ayah sekaligus gurunya, yakni Sunan
Kalijaga, Sunan Muria ini juga berdakwah dengan kesenian. Sunan Muria memiliki
kemampuan mendalang seperti ayahnya. Salah satu kisah perwayangan yang sering
dilakonkan oleh Sunan Muria adalah Topo Ngeli. Dalam kisah Topo Ngeli memiliki
tokoh utama bernama Dewa Ruci yang merupakan empu dari Kerajaan Majapahit. Dewa
Ruci ini diceritakan berbaur dengan masyarakat setempat, terutama rakyat
jelata. Dengan berbaur bersama masyarakat jelata, Dewa Ruci lalu menjalin
hubungan kekerabatan dan meniadakan adanya status sosial.
Sebenarnya, tokoh Dewa Ruci ini mencerminkan kepribadian
Sunan Muria karena beliau juga sama-sama memiliki sifat yang sama yakni suka
membantu masyarakat. Selain itu, beliau juga sering menggelar pertunjukan
wayang hasil gubahan ayahnya seperti Dewi Ruci, Dewa Srani, Semar Ambarang,
Jamus Kalimasada, Begawan Ciptaning, dan masih banyak lagi. Saat mendalang,
unsur-unsur Islami dimasukkan ke dalam pertunjukan wayang tersebut. Dengan
begitu, masyarakat yang menonton pertunjukan bisa mendapatkan pelajaran tentang
agama Islam.
8. Sunan Kudus (Jafar Shadiq)
Sunan Kudus (Jafar Sadiq) diberi gelar oleh para wali dengan
nama Wali Al-ilmi yang memiliki arti orang yang berilmu luas. Sunan Kudus memiliki keahlian khusus dalam bidang
agama. Ia juga dipercaya untuk memegang pemerintahan di daerah Kudus. Sunan
Kudus merupakan salah satu Wali Songo penyebar agama Islam di Jawa, khususnya
wilayah Jawa Tengah. Hal ini dikarenakan beliau merupakan panglima serta
pemimpin peperangan menggantikan ayahnya.
Sunan Kudus merupakan putra dari Raden Usman Haji yang
bergelar Sunan Ngudung di Jipang Panolan, dekat Blora. Selain belajar agama
kepada ayahnya, Sunan Kudus juga belajar kepada beberapa ulama terkenal,
seperti Kiai Telingsing, Ki Ageng Ngerang dan Sunan Ampel. Setelah menimba ilmu
agama dari Kyai Telingsing, Sunan Kudus mewarisi ketekunan dan kedisiplinan
dalam mengejar atau meraih cita-cita. Selanjutnya, Sunan Kudus juga berguru
kepada Sunan Ampel di Surabaya selama beberapa tahun lamanya.
Saat itu, masyarakat di Kudus masih banyak yang belum beriman.
Tentu saja bukan pekerjaan yang mudah untuk mengajak mereka memeluk agama.
Apalagi mereka yang masih memeluk kepercayaan lama dan memegang teguh
adat-istiadat jumlahnya tidak sedikit. Di dalam masyarakat dengan kondisi
seperti itulah Sunan Kudus harus berjuang menegakkan agama.
9. Sunan Kalijaga (Raden Sahid)
Sunan Kalijaga (Raden Sahid) merupakan anak dari adipati
Tuban, Tumenggung Wilatikta. Ia dikenal sebagai budayawan dan seniman seni
suara, seni ukir hingga seni busana. Ia juga menciptakan aneka cerita wayang
yang bercorak keislaman. Pelajari kisah hidup Sunan Kalijaga pada buku Sunan
Kalijaga Guru Suci Orang Jawa yan telah membuktikan dirinya mampu merubah masa
suram dan melewati rintangan yang ada.
Dalam berdakwah, Sunan Kalijaga memperkenalkan bentuk wayang
yang terbuat dari kulit kambing atau biasa dikenal sebagai wayang kulit. Sebab,
pada masa itu wayang populer dilukis pada semacan kertas atau wayang beber. Dalam seni suara, ia
menciptakan lagu Dandanggula. Sebelum menjadi ulama, Sunan Kalijaga konon
pengalaman hidup sebagai perampok atau begal. Bahkan, ia juga pernah merampok
Sunan Bonang. Peristiwa tersebut diyakini terjadi saat Sunan Kalijaga masih
berusia muda. Sunan Kalijaga juga dikenal kerap melakukan tindak kekerasan.
Sebab, saat itu masyarakat Tuban hidup sangat memprihatinkan
lantaran adanya upeti ditambah musim kemarau panjang. Kendati sudah diusir dari
Tuban, Sunan Kalijaga tidak berhenti melakukan aksi pembegalan. Ia bahkan
merampok orang-orang kaya di Kadipaten Tuban. Mengetahui hal itu, ayahnya tentu
semakin marah. Sunan Kalijaga kembali diusir. Kali ini ia disuruh angkat kaki
dari wilayah Kadipaten Tuban. Keluar dari daerah Tuban, Sunan Kalijaga masih
juga tidak menghentikan aksi perampokan itu. Bahkan, ia sampai tega meminta
harta seorang yang sepuh. Saat itu, Sunan Kalijaga bertemu dengan seseorang di
hutan Jati Wangi. Ternyata, orang tua tersebut diketahui sebagai Sunan Bonang.
Raden Syahid alias Sunan Kalijaga tidak mengenal orang tua tersebut. Karena
masih memiliki jiwa begal, ia berniat untuk membegal Sunan Bonang.
Bahkan, Sunan Kalijaga berhasil melumpuhkan Sunan Bonang. Ia
pun meminta Sunan Bonang menyerahkan barang bawaannya.Tanpa disangka, Sunan
Bonang menolak permintaan itu. Kemudian, Sunan Kalijaga pun menjelaskan alasannya
membegal adalah untuk membantu orang miskin. Dalam cerita versi lainnya, Sunan
Kalijaga meminta maaf dan bertobat lantaran Sunan Bonang menasihatinya dan
menunjukkan kesaktiannya, yaitu mengubah buah pohon aren menjadi emas.
Pertemuan tersebut membuat Sunan Kalijaga bertobat dan langsung memohon agar
diperbolehkan menjadi muridnya. Sunan Bonang tentu saja menerima permintaan
tersebut.
Namun, Sunan Bonang mengajukan suatu syarat, yaitu Sunan
Kalijaga harus bersemedi di pinggir kali sampai Sunan Bonang kembali. Sunan
Kalijaga pun menyanggupi syarat tersebut. Dikisahkan, Sunan Bonang pun akhirnya
kembali ke tempat yang sama setelah tiga tahun lamanya. Ia lantas menemukan
tubuh Sunan Kalijaga sudah dirambati oleh rerumputan. Melihat keteguhan hati
Sunan Kalijaga, Sunan Bonang pun takjub. Atas peristiwa itu lah kemudian Raden
Syahid diberi nama “Sunan Kalijaga”. Artinya, penjaga kali. Selain itu, Sunan
Kalijaga juga dapat diartikan sebagai orang yang senantiasa menjaga semua
aliran atau kepercayaan yang dianut masyarakat. Sunan Kalijaga menjadi
satu-satunya wali yang paham dan mendalami segala pergerakan, aliran atau agama
yang hidup di tengah masyarakat.
Selain itu, Sunan Kalijaga juga memiliki cara yang unik saat
menyebarkan agama Islam di pulau Jawa. Ia berhasil mengenalkan ajaran agama
Islam dengan memadukan budaya Jawa seperti wayang. Bahkan, Sunan Kalijaga juga
mengarang sebuah tembang Jawa yang sangat terkenal sampai saat ini, yaitu
Ilir-Ilir.
Sekian Artikel dari saya kurang lebihnya mohon maaf semoga dengan adanya artikel ini para pembaca sekalian bisa lebih tercerahkan, Wasalamualikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
















